3 Kesalahan Umum Dalam Memulai Bisnis

Sebagai pemula dalam bisnis, anda mungkin sedikit kurang berpengalaman sehingga peluang errornya masih cukup besar. Kita bisa menganalogikan bisnis dengan tanaman. Jika kita memberikan detail yang baik dalam merawatnya maka ia akan tumbuh, jika kita melakukan kesalahan (misalnya memberikan pupuk yang tidak seharusnya dalam massa pertumbuhan atau memberi obat yang overdosis) bisa menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut tidak sempurna atau bahkan mati. Begitulah bisnis. Maka ketika anda memulai sebua bisnis, pastikan tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti berikut ini:

Kesalahan #1: Tidak Mampu Mengungkapkan Gagasan dengan Jelas dan Ringkas

Inilah kesalahan umum yang sering dilakukan oleh enterpreneur baru. kurang bisa mengungkapkan gagasan mereka secara jelas dan ringkas. Mereka harus mampu membuat investor, mitra, dan pelanggan potensial mau membeli produk anda. Ringkaslah gagasa anda seperti template tweeter yang hanya terdiri dari maksimal 140 karakter.  Dan setelah selesai, maka kembangkan pesan tersebut menjadi maksimal 500 karakter, dan harus kita garis bawahi bahwa semakin sinkat pesan anda, maka semakin jelas maksud dari pesan anda, dan semakin dapat dimengerti oleh orang lain.

3 Kesalahan Umum Dalam Memulai Bisnis

Kesalahan #2: Tidak Realistis dalam Biaya

Ketika sudah sampai pada estimasi biaya, usahakan untuk tidak mengurangi budgetnya. Kalau bisa justru ditambah atau bahkan dilipatgandakan. Karena biasanya ada hal-hal yang terlewat saat mengestimasi dana (seperti biaya, gaji, pajak tersembunyi, dan lain-lain).

David Nelman (pendiri maskapai JetBlue), ketika mulai merintis binisnya pada tahun 1998 menyatakan butuh modal awal sekitar $169 juta (angka yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan maskapai lain yang baru dirintis). Kebijakan David menuai banyak reaksi publik, bahkan ada yang mengaku pakar mencemooh rencananya. Tapi kemudian ia bisa mendapatkan modal itu dan menjadi salah satu maskapai paling sukses sepanjang masa.

Kesalahan #3: Merekrut Orang yang Disukai, Bukan Dibutuhkan

Bukan rahasia umum bahwa seseorang cenderung memiliki sifat yang subjektif, bukan objektif. Katakanlah begini, semisal anda memiliki kapabilitas untuk merekrut karyawan baru di perusahaan anda. kebanyakan orang akan memberikan pekerjaan tersebut pada orang terdekat mereka (teman, pacar, saudara, dll).

Okelah, anggap saja mereka memiliki kapabilitas untuk pekerjaan itu, tapi jika suatu ketika mereka gagal, maka akan sulit bagi anda untuk memintanya keluar. Sebagai gantinya, rekrut pekerja untuk satu tim inti yang beranggotakan orang-orang cerdas yang memahami industri dan risiko-risiko yang ada di dalamnya. Jikapun nanti terjadi kegagalan, perasaan ‘tidak enak atau semacamnya tidak akan ada.

Rini Ayasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *